Asia-Europe Meeting 2023, Bahas Tantangan Geopolitik hingga Kerja Sama Kawasan

Asia-Europe Meeting (ASEM) merupakan satu-satunya forum di tingkat Kepala Negara yang menjembatani kerja sama kawasan Asia dan Eropa. Negara mitra ASEM terdiri dari dua kaukus. Dari kaukus Asia beranggotakan 21 negara Asia dan Sekretariat ASEAN. Sementara dari kaukus Eropa terdiri dari 28 negara anggota European Union (EU), Norwegia, Swiss, dan UE. Secara keseluruhan, ASEM mewakili 55% perdagangan global, 60% pendapatan domestik bruto, dan 60% populasi seluruh dunia.

ASEM Day tahun ini mendesak karena ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina di Eropa telah menghentikan proses musyawarah ASEM. Indonesia berinisiatif untuk mengambil hubungan orang-ke-orang untuk meredakan situasi stagnan di tingkat pemerintah-ke-pemerintah.

Bekerja sama dengan Asia-Europe Foundation, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP UNPAR), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, dan Direktorat KSIA Amerika dan Eropa, serta didukung oleh Parahyangan Center for International Studies (PACIS) UNPAR, Himpunan Program Studi Hubungan Internasional (HMPSHI) UNPAR, dan Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII), menggelar diskusi interaktif bertajuk “Reigniting ASEM: The Future of Asia and Europe from Asia’s Perspective”. Acara ini bertujuan untuk memberikan masukan dan perspektif dari Think-tank, akademisi, dan mahasiswa tentang solusi kolaboratif untuk masa depan ASEM.

“Di tahun ini terdapat urgensi yang lebih besar untuk mengadakan ASEM Day dan memanfaatkan  momentum tsb dalam menggerakkan kembali kerja sama yang ada di ASEM, akibat ASEM saat ini tengah “tersandera” menjadi arena spillover ketegangan politik antara Rusia vs Ukraina yang didukung oleh negara-negara Barat dan aliansinya, sehingga mengakibatkan terhentinya proses deliberasi ASEM pada level pemerintah,” tutur Ketua PACIS Idil Syawfi, M.Si, sebagaimana dikutip dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/3/2023).

Sejak Maret 2022, terdapat usulan untuk membekukan sementara keanggotaan Rusia-kendati Rusia saat ini masih menjadi anggota ASEM, karena tidak tercapai konsensus, posisi negara-negara mitra menjadi terbelah. Saling sandera di kedua belah kaukus, mengakibatkan pertemuan formal di tingkat Senior Official Meeting tidak berjalan, sehingga ASEM Ministerial Meeting yang dijadwalkan tahun lalu tidak dapat terlaksana. Rusia tidak lagi dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan di grupnya, NESA (North East and South Asia).

Tantangan lain yang juga tengah dihadapi ASEM saat ini adalah preferensi negara-negara EU untuk bermitra dengan ASEAN yang dipandang memiliki sentralitas di kawasan Indo-Pasifik dibandingkan bermitra dengan kawasan Asia secara keseluruhan (dimana Rusia dan Ukraina merupakan kaukus Asia di Eropa). Pada Joint Leader’s Statement ASEAN-EU Commemorative Summit 2022, para pemimpin UE dan ASEAN mengharapkan pertemuan ASEAN-UE di tingkat kepala negara/pemerintahan dapat diadakan rutin mulai tahun 2023.

“Dalam konteks tersebut, Indonesia berpendapat salah satu jalan yang saat ini paling memungkinkan untuk ditempuh dalam mencairkan ketegangan yang ada adalah menggunakan kerangka People-to-People contact sebagai wahana untuk menggerakkan kembali kerja sama antar kedua kawasan yang tengah mengalami stagnasi di jalur Governments-to-Governments,” demikian dijelaskan lebih lanjut.

Diskusi bertajuk Reigniting ASEM: The Future of Asia and Europe from Asia’s Perspective, akan menjadi reminder sekaligus call for action untuk terus memanfaatkan ASEM, sebagai satu-satunya forum tingkat kepala negara guna menjembatani dan memajukan kerja sama Kawasan Asia dan Eropa.

Diskusi tersebut menghadirkan para pembicara yang relevan dan memiliki semangat kolaborasi memajukan kerja sama kawasan. Mereka yaitu Nidya Kartikasari, Ph.D. (Director for American and European Intra and Inter-regional Cooperation, Indonesia MOFA); Soemadi Brotodiningrat (Indonesia Governor For ASEF Board of Governors); Toru Morikawa (Executive Director Asia-Europe Foundation); Lurong Chen, Ph.D (Researcher, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia); Teuku Rezasyah, Ph.D (Lecturer International Relations Universitas Padjajaran); dan Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D (Lecturer International Relations UNPAR).

Kegiatan ini juga akan dimanfaatkan untuk menginformasikan berbagai program flagship di bawah kerangka ASEM dan dikelola oleh Asia Europe Foundation (ASEF), seperti ASEM DUO Fellowship Program, program beasiswa untuk mendukung pertukaran profesor dan mahasiswa di bidang pendidikan tinggi antara Asia dan Eropa, yang perlu dimanfaatkan secara lebih maksimal oleh sivitas akademisi Indonesia. (KTH-Humkoler UNPAR)

X