Dies Natalis ke-60 FISIP UNPAR: Transformasi Masyarakat Digital jadi Perhatian

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP UNPAR) merayakan Dies Natalis ke-60 pada Rabu (25/8/2021) secara hybrid. Acara yang mengangkat topik “Kesiapan Masyarakat Indonesia Bertransformasi Menjadi Masyarakat Digital” diharapkan menjawab serangkaian tantangan dan peluang bagi UNPAR menuju keadaban baru dan transformasi keberlanjutan sejalan dengan semangat Merdeka Belajar kampus Merdeka (MBKM).

Rektor UNPAR Mangadar Situmorang, Ph.D. dalam sambutannya mengatakan bahwa masyarakat era kini tidak lagi hanya mengenal teknologi, tetapi mengafirmasi fundamentalnya revolusi teknologi, khususnya dalam adopsi teknologi digital. Lebih lanjut, Rektor juga menuturkan sebagai salah satu upaya pengembangan dan diversifikasi, UNPAR membuka program pendidikan nongelar melalui UNPAR Plus. 

UNPAR Plus menjadi sebuah platform layanan pendidikan secara umum untuk bidang-bidang nongelar yang mencakup sejumlah bidang keahlian yang dibutuhkan masyarakat. Pengembangan pelayanan pendidikan yang dilakukan UNPAR melalui UNPAR Plus ini menawarkan berbagai bidang keahlian yang lebih mengarah pada life skills.

“UNPAR Plus menjadi salah satu inovasi yang telah digagas beberapa tahun lalu dan coba dikawal dan dikembangkan oleh Ibu Maria (Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis FISIP UNPAR Dr. Maria Widyarini, S.E., M.T. Ketua-cum-Direktur Pengembangan Bisnis UNPAR Plus) bersama teman-teman di bawah koordinasi Pak Budi (Direktur UNPAR Plus Dr. Budi H. Bisowarno). Ini satu hal yang patut kita apresiasi dan dukung bersama. Kalau orang bertanya soal UNPAR Plus, saya kira FISIP akan menjadi unit yang terdepan dalam hal ini. Terima kasih sekali lagi untuk UNPAR Plus dalam kolaborasi ini,” tutur Rektor.

Rektor juga menuturkan implementasi yang lebih akselerasi lagi tentunya tentang MBKM yang digagas pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI. Rektor tak memungkiri bahwa tidak mudah melakukan banyak perubahan yang harus dilakukan.

Seperti salah satu program Kampus Merdeka yang menjadi bagian dari MBKM adalah Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang memberi hak belajar untuk mahasiswa hingga 3 semester di luar program studi (prodi) dan di luar UNPAR. 8 program Kampus Merdeka yaitu Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Magang/Praktik Kerja, Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan, Penelitian/Riset, Proyek Kemanusiaan, Kegiatan Wirausaha, Studi/Proyek Independen, dan Membangun Desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT).

“Maka adalah kewajiban prodi dan universitas untuk memfasilitasi itu, ada banyak pilihan yang ditawarkan MBKM bagi mahasiswa mulai dari magang, pertukaran mahasiswa, dan seterusnya. Bahkan UNPAR menginisiasi dua lagi, yaitu Bela Negara dan Proyek Lingkungan Hidup,” ujar Rektor.

Perwakilan Pengurus Yayasan UNPAR Pastor Basilius Hendra Kimawan, OSC., L. Th. dalam sambutannya juga mengungkapkan bahwa saat ini diperlukan lulusan-lulusan yang mampu melihat dinamika dan transformasi sosial. 

“Pengurus Yayasan melihat upaya-upaya FISIP untuk meningkatkan kualitas lulusan dengan berbagai macam cara. Juga turut menyambut gembira apa yang sudah diupayakan FISIP dalam bidang pendidikan selain pemekaran program Magister yang telah berjalan, FISIP juga telah membuat langkah maju dengan program konsentrasi Bisnis Digital. Pengurus Yayasan sungguh mengapresiasi kemajuan ini,” ucapnya.

Berbagai jalinan kerja sama yang dirajut FISIP UNPAR bersama pihak pemerintah maupun swasta. Antara lain dalam kolaborasi mewujudkan Bandung Kota Cerdas Pangan pun sangat diapresiasi. Tantangannya adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan kualitas dosen yang tercermin dari jumlah dosen berpendidikan doktor dan jabatan fungsional akademik termasuk guru besar.

“Tantangan lain adalah bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman secara blendedhybrid, dengan membuahkan outcome lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman ini,” katanya.

Masyarakat Digital

Acara dilanjutkan dengan Orasio Dies yang mengangkat topik “Kesiapan Masyarakat Indonesia Bertransformasi Menjadi Masyarakat Digital” oleh Dr. James Rianto Situmorang, Drs., M.M. Dalam orasinya, James memaparkan bahwa masyarakat Indonesia telah siap bertransformasi menjadi masyarakat digital.

Penggunaan istilah digital sekarang, lanjut dia, diartikan macam-macam. Seperti pemasaran digital, bisnis digital, perbankan digital, kampus digital, teknologi digital, literasi digital, ekonomi digital, kampung digital, rumah digital, hingga masyarakat digital.

Munculnya internet pun mengubah perilaku atau kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan e-mailwebsitee-commercee-learninge-library, pesan instan, aplikasi, online bankinggame onlinevirtual meeting sampai live streaming , dan yang lainnya.

“Internet ini sangat mewujudkan istilah digital.  Kita jadi terbiasa dengan online,” ujarnya.

Dia pun menuturkan, masyarakat Indonesia juga telah berubah menjadi masyarakat digital. Alasan utamanya ada dua, gawai dan internet.

Diketahui bahwa platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing We Are Social kembali merilis laporan terbaru tentang pengguna internet global, termasuk Indonesia untuk awal tahun 2021. Di laporan terbarunya, layanan manajemen konten dan agensi pemasaran tersebut mengungkap jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total populasi sebesar 274,9 juta jiwa pada Januari 2021.

Lebih lanjut, sebesar 96,4 persen masyarakat mengakses internet melalui ponsel, 74,7 persen melalui PC/Laptop, 18 persen menggunakan tablet, dan 6,2 persen via konsol.

Jumlah pengguna smartphone terbanyak di dunia per negara (dalam juta), Indonesia berada  di posisi keempat dengan jumlah 160,23 juta. Posisi pertama diduduki Tiongkok sebesar 911,9 juta, diikuti India sebanyak 439,4 juta, dan di posisi ketiga dengan jumlah pengguna 270 juta di Amerika Serikat. 

Menurut dia, masyarakat digital bisa dijabarkan dalam 5 hal. Pertama, sebuah masyarakat di mana segala sesuatu berjalan pada teknologi digital di mana sarana tanpa kertas dan elektronik adalah norma.

Kedua, proses evolusi membentuk masyarakat informasi melalui penggunaan intensif teknologi dan media digital di mana internet memposisikan dirinya sebagai alat informasi itu sendiri dan jaringan yang terdesentralisasi membentuk kesatuan dalam akses dan transmisi pembelajaran kolaboratif.

Ketiga, masyarakat modern dan progresif yang terbentuk sebagai hasil adaptasi dan integrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di rumah, tempat kerja, pendidikan dan rekreasi, serta didukung oleh sistem dan solusi telekomunikasi dan konektivitas nirkabel yang canggih.

Keempat, mengacu pada masyarakat di mana teknologi digital digunakan secara luas untuk menanggapi berbagai tantangan individu, komunitas, dan sosial. Terakhir, masyarakat modern adalah masyarakat progresif yang terbentuk sebagai hasil adaptasi dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

“Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang sudah dikemukakan sebelumnya dapat saya simpulkan bahwa masyarakat Indonesia telah siap bertransformasi menjadi masyarakat digital. Sebagian besar masyarakat telah memiliki smartphone untuk melakukan berbagai aktivitas yang menggunakan atau memanfaatkan internet. Sebagian masyarakat yang lebih mampu juga telah memiliki PC dan laptop,” tuturnya.

Masyarakat Indonesia juga dinilai sudah terbiasa dengan belanja online, perbankan online, daftar onlinee-money, belajar online, dan online lainnya yang merupakan ciri dari masyarakat digital. Sudah banyak pula pelaku bisnis yang sudah melakukan bisnisnya secara online termasuk jutaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Indonesia. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)