International Film Screening

Program studi Ilmu Hubungan Internasional mengadakan acara ‘International Film Screening’ yang membahas isu-isu internasional melalui film. Acara ini diadakan dari tanggal 11-13 April 2014, hari pertama bertempat di Museum Konferensi Asia Afrika dan selanjutnya bertempat di ruang audio visual FISIP.  Acara ini termasuk dalam salah satu program kerja Ilmu Hubungan Internasional yang diketuai oleh Diandra Jemima. Film-film yang dibahas dalam acara International Film Screening ialah Paper Orphan (Belgium), Slave Roots : The Soul of Resistance (UNESCO), Mother : Caring for 7 Billion (USA), Homophobia (Austria), Elephant (USA), Mata Tertutup (Indonesia), The Age of Stupid (UK)  dan  Memory Books (Germany).

Pada hari Jumat 11 April 2014 Film berjudul “ Paper Orphan“ yang di sutradarai oleh Terres des Hommes ditayangkan di awal sebagai pembuka kegiatan ini. Kemudian dilanjutkan dengan talkshow  bertemakan “Poverty and Children Trafficking” dengan narasumber Ginanjar yang merupakan pendiri dari Komunitas Rumah Cemara dan Efphnie Apriyani seorang dosen, konsultan perusahaan sekaligus seorang psikolog.

Film “ Paper Orphan“ membahas tentang bagaimana keadaan anak-anak Nepal yang terpaksa dikirim dan diadopsi ke Amerika Serikat dan Eropa dikarenakan terbelenggu oleh kemiskinan. Di Nepal terdapat sistem pengadopsian, dimana anak-anak yang hilang dikumpulkan di suatu tempat terbuka, kemudian di foto satu per satu, lalu lalu hasil foto mereka ditempel di koran. Apabila tidak ada orangtua yang mengakui foto tersebut adalah anaknya, maka barulah anak tersebut bisa diadopsi.

Anak yang telah diadopsi dibawa ke negara orangtua angkatnya masing-masing, namun disamping itu mereka mengalami tekanan secara pribadi. Tekanan yang dimaksud yaitu, beberapa anak mengalami culture shock karena mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya yang baru di tempat tinggal yang baru. Selain itu anak-anak mengalami krisis identitas dimana mereka kurang mengenali dirinya sendiri. Bahkan anak-anak mengalami pergumulan batin seperti: Siapakah Aku ini? Anak Siapakah Aku? Hal tersebut menimbulkan keprihatinan dunia karena khawatir anak-anak tersebut akan kehilangan jati diri bangsa. Jati diri bangsa bisa dipertahankan apabila seseorang dapat memahami kebudayaan sendiri dan dapat menyaring modernisasi dari luar.

Kesimpulan yang dapat diambil dari film tersebut adalah untuk mendapatkan mekanisme yang jelas dalam hal mengadopsi anak, terlepas dari status siapapun kita tidak harus ada gebrakan ataupun menunggu perintah dari pemerintah. Kita sebagai Everyday Ambassador dapat menjadi agent of change dengan mempraktekkan cinta kasih untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar.

X